
Dalam pelajaran biologi dulu, disebutkan – kalau salah mohon dikoreksi, manusia mempunyai 32 gigi, terdiri dari 4 gigi seri, 2 gigi taring, 4 gigi geraham depan dan 6 gigi geraham belakang, masing-masing dikalikan 2 untuk menghitung gigi bagian atas dan bawah. Susunan gigi tersebut 20 di antaranya berupa gigi susu. Saya tidak ingat kapan gigi susu milik saya mulai tanggal satu persatu. Seingat saya, kelas 4 SD saya tidak punya gigi taring dan kalau tidak salah itu gigi susu saya yang terakhir tanggal.
Sepanjang proses tanggalnya gigi susu saya tidak pernah melibatkan dokter gigi. Ada yang tanggal dengan sendirinya, ada yang saya goyang-goyang dengan lidah akhirnya lepas atau dengan paksa dicabut oleh tangan kekar ayah saya. Padahal teman-teman sepermainan mempunyai tips untuk melepaskan gigi susu yang hampir lepas :
Dengan cara yang cepat : gigi diikat dengan benang, lalu tariklah benang itu sekencang-kencangnya atau ikatkan benang itu di boncengan sepeda teman, lalu minta teman untuk menggowes sepedanya secepat-cepatnya.
Dengan cara yang pelan : gigi diikat dengan benang, lalu ikatkan pada leher seekor siput tunggulah sampai siput itu berjalan dengan santai.
Dengan pura-pura tidak tahu : makanlah jenang yang alot, nanti tahu-tahu gigi yang goyang itu akan hilang tertelan ke dalam perut.
Ternyata mitos “Jika gigi bawahmu yang lepas, buanglah ke atas. Sebaliknya, jika gigi atasmu yang tanggal tanamlah dia” berlaku sampai sekarang. Minggu sore, Lila – anak kedua saya, tergopoh lari ke depan rumah dan menanam sesuatu di bawah pot bunga.
“Kenapa kamu, Lil?” saya bertanya kepadanya.
“Habis tanam gigi!” jawabnya, sambil meringis. Gigi seri bagian atas sudah tidak ada. Ompong.
pesan Kyaine :
adanya gigi membuat senyuman semakin manis
rawat gigi sebagai harta yang tak ternilai harganya
jangan takut mendatangi dokter gigi