Ada Keajaiban di Bawah Abu
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ungkapan yang tepat bagi Udin dan keluarganya. Hanya dalam waktu 20 menit, rumah sekaligus pangkalan bensin miliknya musnah terbakar. Tragedi itu terjadi di bulan Mei 2009.
Sepulang dari Arab, Udin kembali ke Kampung Lengis membawa dinar sekaligus dan bersatu kembali bersama istri dan anaknya. Sebutan baru pun melekat padanya : Haji Udin. Lebih dari 3 tahun sejak pulang dari Arab, Udin membuka usaha kios bensin untuk menghidupi keluarganya. Bebannya makin bertambah ketika Udin diberi amanah satu anak lagi yang kini berusia 1,5 tahun. Untuk menambah penghasilan, Udin membuka jasa tambal ban. Sochim yang masih bujangan dan belum punya pekerjaan tetap membantu usaha kakak iparnya itu.
Ada dua kegiatan pokok yang dilakukan Sochim, jika dia tidak membantu Udin di kios pasti sedang ikut ngaji ke Habib. Sochim maniak mengikuti sang Habib. Bendera putih bertuliskan huruf Arab kebanggaannya : “Laa ilaha ilallah … Muhammadar rasulullah” selalu dibawa serta saat mengaji ke sang Habib.
Malam itu sepulang mengikuti pengajian Habib, Sochim menginap di rumah Udin yang sebenarnya hanya cukup menampung keluarga Udin saja. Rumah orang tuanya – Mang Ojih, yang tidak jauh dari rumah Udin lebih lapang. Karena itu Sochim lebih banyak tidur di rumah bapaknya daripada ikut tidur di rumah Udin. Karena malam itu Mang Ojih dan istrinya sedang ada keperluan di Jakarta dan tidak pulang ke Kampung Lengis, Sochim memilih menginap di rumah Udin.
Jumat pagi, lereng Gunung Salak tampak sejuk dan angin bertiup perlahan menyapu embun yang lambat laun menghilang dipelukan hangat mentari. Udin masih sibuk berbenah di dalam rumah, sesekali menengok anak bungsunya yang masih tidur. Iyah istrinya sedang mencuci di belakang rumah ditunggui anak sulungnya. Sochim – adik ipar Udin yang kebetulan sedang menginap di situ membersihkan kios bensin depan rumah.
Jarum jam belum menunjuk angka 6, pintu rumah Udin ada yang mengetuk. Seseorang datang sambil mendorong sepeda motor yang ban belakangnya kempes. Saat itu Udin sedang repot di dalam rumah, Sochim yang membuka pintu. Demi pelayanan kios yang biasanya buka setelah jam 7 itu bersedia melayani pelanggan.
Menambal ban atau melayani pembelian bensin eceran biasa dikerjakan oleh Sochim setiap harinya. Tetapi Sochim suka sembrono dalam bekerja, sehingga banyak teman, tetangga, atau pelanggan yang memberi peringatan, seperti kata Munir beberapa hari sebelumnya : “Jangan deket-deket jerigen gitu ngebakarnya” dan dengan enteng Sochim menjawab dengan logat Sundanya yang kental : “Ah … itu jerigen mah sudah kosong …” Sudah tidak terhitung dengan jari jumlah peringatan yang diterimanya. Selalu saja dalam prosesi pembakaran ban untuk merekatkan tambalan, tidak jauh dari jerigen-jerigen bensinnya. Kadang jarak pembakaran ban dengan jerigen bensin hanya sekitar 1 m, padahal jerigen di sampingnya terkadang masih berisi. Peringatan tersebut mereka sampaikan juga kepada Udin.
Waktu pembakaran yang dibutuhkan dirasakan cukup bagi Sochim, dia pun melihat api dalam ceruk besi : sudah padam atau belum. Ceruk besi itu ternyata apinya belum padam. Di sinilah petaka itu berawal. Ceruk besi yang ditariknya itu dalam posisi agak miring, sehingga sebagian spirtusnya tumpah. Dan api pun merambat cepat menjangkau jerigen-jerigen bensin. Sochim tersentak kaget sambil berteriak : “jerigen terbakar … jerigen terbakar…!!!”
Pemilik motor menarik motornya menjauh dari api. Sochim sibuk memadamkan api. Jerigen plastik yang berisi bensin satu demi satu leleh dimakan api. Bensin membanjiri lantai, api ada di mana-mana.
Rumah Udin hanya memiliki satu pintu keluar. Samping kiri rumahnya tembok gang yang tingginya lebih dari 2 m, samping kanan tembok tinggi milik tetangga. Belakang rumah sebenarnya ada pintu, tapi sengaja dimatikan Udin dan ditutupi dengan barang-barang bekas. Sochim gagal memadamkan api, meskipun dibantu pelanggannya.Kegaduhan di depan rumah membuat Udin lari keluar untuk ikut membantu. Api semakin membesar, asap semakin memedihkan mata.
Seketika Udin ingat keluarganya. Dia masuk ke rumah menarik istrinya yang masih bingung akan apa yang terjadi. Anak sulungnya terbatuk-batuk akibat asap yang makin tebal. Sochim teringat akan keponakannya yang masih tertidur, segera berlari ke kamar. Kejadian itu mengundang tetangga kanan-kiri berdatangan membantu memadamkan api dengan peralatan sekedarnya.
Sochim keluar rumah membawa anak bungsu Udin, sebagian badan kedua orang itu sudah terbakar. Udin dan istrinya keluar rumah diselimuti api. Tetangga mulai berdatangan untuk membantu memadamkan api di tubuh mereka berdua. Begitu api di tubuhnya padam, Udin teringat anak sulungnya yang masih tertinggal di dalam.
Sontak, Udin bangkit dan kembali mencoba menerobos api. Seketika orang-orang di tempat itu menarik tubuh Udin yang kembali terbakar. Hampir 20 menit berlalu … rumah semi-permanen beserta isinya luluh lantak menjadi debu.
Udin dan istrinya tak sadarkan diri. Orang-orang mencoba mencari anak sulung Udin di tengah asap yang masih panas. Astaghfirullah, anak sulung Udin sudah hitam nyaris menjadi arang.
Rumah Udin sebetulnya berada di tepi jalan raya tempat berlalu lalang truck tangki air pegunungan yang hampir tiap menit naik-turun ke Gunung Salak. Setelah melewati pertigaan Pasar Caringin, truck ini belok ke kiri (utara) menuju Jakarta dan sekitarnya. Air gunung inilah digunakan untuk air mineral isi ulang. Herannya, dalam 20 menit tersebut tak ada satu pun truck tangki air yang lewat.
Udin dan keluarganya diangkut ke RS PMI Bogor untuk mendapatkan pertolongan. Sesepuh sekaligus imam Masjid Syamsu Rasyid Kampung Lengis, H. Abshar – kebetulan mertua penulis – memimpin prosesi pemakaman anak sulung Udin. Para tetangga mencoba menenangkan Mang Ojih dan istrinya yang datang dari Jakarta siang itu. Sorenya, H. Abshar langsung memimpin rapat di Masjid Syamsu Rasyid, mengajak seluruh jamaah menggalang dana untuk membantu Udin sekeluarga selama perawatan.
Paginya, Udin sekeluarga dipindahkan ke RSCM Jakarta untuk memperoleh perawatan dengan fasilitas yang lebih komplit.
Sudah menjadi kehendakNya, hari ke-3 istri Udin tidak tertolong. Hari ke-4, Sochim yang kondisinya jauh lebih baik dari yang lain ikut menyusul kakak perempuannya. Hari ke-5 anak bungsu Udin menyusul ibunya. Udin yang kondisinya paling parah, akhirnya menyusul anak dan istrinya di hari ke-7.
Hari ke-2 setelah kejadian tragis itu, Polres Bogor datang mengidentifikasi lokasi kejadian disertai dengan wartawan. Polisi yang datang di bekas rumah Udin terheran-heran, nyaris tidak ada barang yang utuh. Hanya kerangka motor yang ada. Barang lainnya seperti TV, tape, lemari, perkakas dapur hancur luluh jadi debu. Bahkan velg bekas pun tidak ketemu ketika dicari. Salah seorang wartawan yang ikut identifikasi mencoba mengkorek-korek gundukan abu di lantai bekas rumah Udin.
Alangkah terkejutnya si wartawan, dia menemukan beberapa kain putih masih tampak utuh di bawahnya. Ketika dicermati … Allahu Akbar … ternyata bendera kebanggaan Sochim masih utuh. Padahal bendera bertuliskan “Laa ilaha ilallah … Muhammadar rasulullah” itu berbahan kain saten yang mudah terbakar. Kain saten bila tersundut api rokok sedikit saja gampang berlubang. Mengapa di tengah kebakaran hebat benda ini tidak ikut terbakar?
Benda lainnya yang ditemukan utuh adalah mukena istri Udin. Masih tampak gantungan baju menempel di mukena itu karena meleleh sebagian. Tak kalah mengherankan, al-Qur’an yang biasa dibaca Udin ikut selamat, hanya bagian pinggirnya saja yang terkoyak api. Bagian tengahnya masih utuh, sehingga seluruh ayat al-Qur’an itu masih bisa dibaca. Ya … ada keajaiban di bawah abu. Ada bukti tanda-tanda kebesaran Allah dibalik musibah Udin sekeluarga. Ketiga benda itu kini disimpan Mang Ojih, sebagai tanda keikhlasannya melepas anak, menantu, dan cucu-cucunya.
______________________________________________
Catatan pemilik blog :
Penulis artikel ini : Bibit Mugijana, pembaca setia blog ini. Kisah nyata ini berdasar cerita Mang Ojih kepada penulis. Nama tokoh dalam artikel bukan nama sebenarnya, kecuali alamat lokasi dan nama masjid. Kontak penulis : bibit_oslo@yahoo.com

pertamaaaaaaaxxxxxx.. subhanallaaaaah.. ruaaaaarrr biasaaaaaa..
Salam Sayang
subhanallah,,mukjizat itu nyata…..
subhanallah.. semua karena allah
cerita ajaib ini mestinya dikirim ke majalah hidayah..
benar2 kisah penuh hikmah..
Subhanalloh..
_salam anget_
sama seperti kejadian bencana sunami di aceh kemarin….
semua rumah dan bangunan megah hanyut dan hancur.tetapi masjid aceh darussalem tetap tegar berwibawah tanpa kerusakan apapun.
allahu akbar.
tiada kekuatan dan keajaiban kecuali hanya milik Allah
hmm.. tak mampu berkata-kata..