Menunda Kejujuran
Ada tiga syarat utama yang saya tetapkan untuk merekrut karyawan baru atau promosi jabatan bagi staf, yaitu kejujuran, kedisiplinan dan kemampuan. Tiga hal yang harus diprioritaskan secara urut, tidak boleh dibolak-balik. Kenapa harus kejujuran yang nomor satu? Orang yang jujur pasti kredibel, terbuka, ikhlas dan mempunyai moral yang baik.
Saya memutuskan sesuatu harus berdasarkan laporan yang benar dan dapat dipercaya. Kalau laporan itu sampah, keputusan yang saya ambil akan berupa sampah juga.
Jujur merupakan naluri bagi setiap manusia. Dibandingkan dengan bohong, jujur ini lebih memberikan konsekuensi yang lebih baik. Tapi untuk mengungkapkan kejujuran tersebut diperlukan suatu keberanian. Sedangkan untuk menjaga satu kebohongan, diperlukan beberapa kebohongan yang lain dan itu harus konsisten. Sekali tidak konsisten dengan alur kebohongan yang dibuat sebelumnya, akan terkuaklah ketidakjujuran itu. Banyak kalangan yang memegang prinsip jujur bakal ajur (jw. hancur), mestinya mengubah dengan prinsip jujur bakal luhur.
Pagi tadi, saya mendapatkan pelajaran tentang kejujuran. Setelah mengelilingi lapangan sepuluh kali, saya istirahat di pinggir lapangan sambil menikmati bubur ayam. Ketemu seorang teman yang datang belakangan, pesan bubur ayam juga. Basa-basi menanyakan kabar masing-masing, setelah tiga bulan tidak bertemu.
“Sudah dengar cerita tentang saya, Kang?” tanya dia sambil makan kerupuk.
“Mengenai apa ya, apakah tentang Akang kena mutasi besar-besaran yang dilakukan bupati bulan kemarin?” saya balik bertanya.
Akhirnya, dia pun menceritakan kisahnya.
Ke Tanah Haram bulan Nopember lalu, teman saya ini ternyata membawa beban pikiran dan perasaan yang cukup menyiksanya. Beban itu pecah dan tumpah di Arafah, tepatnya selesai melakukan wukuf. Apa pasal? Di Tanah Haram dia mengungkapkan kejujuran kepada istrinya, kalau sudah setengah tahun belakangan dia mempunyai istri lagi. Sebelumnya memang disimpannya rapat-rapat, dan itu telah menyiksa batinnya. Kebohongan demi kebohongan dia lakukan untuk mengelabuhi istrinya. Dan dia tidak atau tepatnya belum berani berkata jujur kalau dia telah berpoligami. Dia memang sudah merencanakan untuk berterus terang di Tanah Haram, dengan harapan istrinya akan mau menerima kejujurannya. Ah, teman saya ini rupanya memanfaatkan kesabaran orang yang sedang melakukan ibadah haji.
Perhitungan teman saya ternyata meleset. Panasnya suhu Arafah menambah makin panasnya hati seorang istri yang dikhianati.
Saya menimpali ceritanya, “Pantas, setelah wukuf kalian tidak mesra lagi. Teman-teman lain pada membatin, iue teh aya naon antara Akang dan pamajikanana?” Oh, baru sekarang saya mendapatkan jawaban atas rasa penasaran saya.
“Bahkan, perang dingin masih berlangsung sampai sekarang,” kata teman saya.
Amboi kawan, itu semua karena menunda sebuah kejujuran.

pertamax, salam kenal mas…
setuju bahwa jujur bakal luhur, he..he..
guskar :
salam kenal jg mas. btw, alamat blognya di mana mas, mau kunjungan balik nih
pertamax, salam kenal mas…
setuju bahwa jujur bakal luhur, he..he..
guskar :
salam kenal jg mas. btw, alamat blognya di mana mas, mau kunjungan balik nih
makasih dah berkunjung
, semoga ini akan menjadi kunjungan2 berikutnya
makasih dah berkunjung
, semoga ini akan menjadi kunjungan2 berikutnya
Hallo, Mas!
Saya pernah punya pengalaman tidak baik karena terlalu jujur. Gimana?
2 hari lagi saya posting pengalaman ini.
guskar :
ditunggu posting-nya mas..
Hallo, Mas!
Saya pernah punya pengalaman tidak baik karena terlalu jujur. Gimana?
2 hari lagi saya posting pengalaman ini.
guskar :
ditunggu posting-nya mas..
menunda kejujuran itu bukan hanya menyiksa perasaan sendiri, tapi org lain yang menjadi korban kebohongannya ..
saya jadi inget kepada seorang teman yg dulu pernah bilang “lebih baik sakit dari sekarang, daripada terus berbohong supaya tetap diterima”
menunda kejujuran itu bukan hanya menyiksa perasaan sendiri, tapi org lain yang menjadi korban kebohongannya ..
saya jadi inget kepada seorang teman yg dulu pernah bilang “lebih baik sakit dari sekarang, daripada terus berbohong supaya tetap diterima”
Atau karena kelamaan berbohong.
guskar :
menunda kejujuran = menyimpan dulu kebohongan
Atau karena kelamaan berbohong.
guskar :
menunda kejujuran = menyimpan dulu kebohongan
dahulukan jujur walau itu sakit
dahulukan jujur walau itu sakit
aku datang lagi
aku datang lagi
gw setuju dengan pemikiranmu kang, segala yang dibangun dengan kejujuran menyejukkan semua pihak terutama diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Awal kita berlaku jujur adalah jujur pada diri sendiri. Mudah-mudahan kejujuran jua yang akan menyelamatkan kita dari hiruk pikuk duniawi dan kehidupan akherat nanti, amin.
guskar :
iki apa om tarto yg dulu jd pawang cobra ya?
gw setuju dengan pemikiranmu kang, segala yang dibangun dengan kejujuran menyejukkan semua pihak terutama diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Awal kita berlaku jujur adalah jujur pada diri sendiri. Mudah-mudahan kejujuran jua yang akan menyelamatkan kita dari hiruk pikuk duniawi dan kehidupan akherat nanti, amin.
guskar :
iki apa om tarto yg dulu jd pawang cobra ya?
kalo nggak keliru ya kang. Dulu mau jadi pawang kobra tidak kesampaian, ujiannya terlalu berat. sekarang malah jadi tukang oprak wong nunggak, doakan mudah-mudahan selamat dari fitnah dari orang-orang yang dzalim. Salam untuk keluarga di karawang dan agus-agus yang lainnya.
guskar :
Om, boleh nggak, tak tuliskan cerita ttg pawang ular di blog ini?
setiap pekerjaan ada resiko. lakukan dng niat sbg ibadah, smg sll terhindar dari fitnah. salam juga untuk keluarga di Karanganyar
kalo nggak keliru ya kang. Dulu mau jadi pawang kobra tidak kesampaian, ujiannya terlalu berat. sekarang malah jadi tukang oprak wong nunggak, doakan mudah-mudahan selamat dari fitnah dari orang-orang yang dzalim. Salam untuk keluarga di karawang dan agus-agus yang lainnya.
guskar :
Om, boleh nggak, tak tuliskan cerita ttg pawang ular di blog ini?
setiap pekerjaan ada resiko. lakukan dng niat sbg ibadah, smg sll terhindar dari fitnah. salam juga untuk keluarga di Karanganyar
Gus Kar, terima kasih atas link-nya.
Coba lagi masuk ke blog artikel Stigma Kejujuran di http://celetukansegar.blogspot.com/2009/05/stigma-kejujuran.html
Saya kasih lagu, biar untuk pencerahan bagi kita semua!
Gus Kar, terima kasih atas link-nya.
Coba lagi masuk ke blog artikel Stigma Kejujuran di http://celetukansegar.blogspot.com/2009/05/stigma-kejujuran.html
Saya kasih lagu, biar untuk pencerahan bagi kita semua!
hehehe.. weleh weleeeeh.. ke ngaraaaabnya mau jalan jalan yaaaa.. sampai sebegitunyakah.. menjalankan ibadah suci.. mempersiapkan diri dan mencoba menemukan Fitrah Diri.. *geleng geleng*.. jamanne kayak opo ooooo
Salam Sayang
Salam Rindu selalu untukmu..
hehehe.. weleh weleeeeh.. ke ngaraaaabnya mau jalan jalan yaaaa.. sampai sebegitunyakah.. menjalankan ibadah suci.. mempersiapkan diri dan mencoba menemukan Fitrah Diri.. *geleng geleng*.. jamanne kayak opo ooooo
Salam Sayang
Salam Rindu selalu untukmu..